
Malam
ini aku sangat merindukannya, aku ingin bertemu dengannya, Tapi tidak mungkin. Aku ambil diaryku, mencoba menuangkan yang aku rasa lewat tulisanku,,
Kuingat dia lewat kenanganku, semoga
membantu penaku untuk menggoreskan tintanya pada kertas-kertas ini. sungguh,
Kristal bening itu tak bersahabat lagi padaku! Meski begitu, tak kuurungkan
niatku dan untaian kata itu mulai terbentuk ..
Dear My Beloved Ever Lasting Friend
Dini hari menanti setiap kisahmu
Tak peduli kantuk menggelayutimu
Kau tetap tersenyum dalam kesendirianmu
Pagi menjelang menyibak air
mukamu
Lelah , kau tepiskan demi cintamu
‘semoga kehidupanmu lebih baik dari hidupku’
Selalu terucap disela do’a dan harapanmu
Meski tersirat , namun kasihmu tak terdefinisi
Aku terlalu malu untuk mengatakan “ aku menyayangimu’
Untuk berucap “ terima kasih banyak” pun lidahku kelu
“maafkan aku karena selalu menyusahkanmu” tak terucap dari mulutku
Airmata ku tak akan bersahabat jika aku begitu
Kata-kata dapat menyusun
kalimat
Membentuk paragfraf, prosa
bahkan cerita
Namun, tak ada kata yang
dapat mengungkapkannya
Tentangmu, kisahmu, terlalu
bermakna bagi kata-kata
Hanya susunan kata-kata yang biasa, namun itulah yang dapat aku
tuliskan saat ini ..Yah, aku memang bukan penyair yang dengan mudah menyusun
kata-kata menjadi puisi yang sarat diksi, tapi setidaknya aku mencoba membuat
diksi ku sendiri untuknya,,
Beberapa bait do’a pun aku torehkan di lembaran yang tersisa ..
Tuhan,,
Terima kasih telah mengirimkannya
untukku
Dialah hadiah terindah dalam
kehidupanku
Aku mohon, bahagiakan dia melebihi
kebahagian yang diberikannya padaku
Hanya kau yang mampu membalas semua
yang telah diberikannya padaku
Tuhan,, Tolong sampaikan padanya..
‘ini pesan seseorang yang jauh disana demi ilmu dan kebahagiaanmu’
“ Ibu , aku menyayangimu lebih dari
segalanya
Maafkan anakmu yang tidak bisa
mengungkapkan semuanya padamu
Semoga waktu berpihak padaku hingga
aku bisa mengatakan semua itu
Meskipun tak sebanding dengan
pengorbananmu
Aku berharap, aku dapat membanggakanmu
dan membahagiakanmu
Melakukan yang terbaik yang aku
bisa untukmu “
Indralaya, 11 Februari 2012
Akhirnya, terselesaikan meski ditemani Kristal bening yang membuatku seakan-akan kekanak-kanakkan ,, ah,, aku tak peduli, setidaknya itu bisa menenangkan hatiku dan itu cukup untuk melepas keinginanku untuk bertemu dengan ibuku (untuk saat ini). Sebelum kututup diaryku dan berharap semuanya dapat menjadi lebih baik, tak lupa kububuhkan kalimat terakhir sebagai penyempurna diksi ku …
“Letter For My Dearest Mother”
(My Mom, My Ever Lasting
Friend! My everything! My Best Gift from God)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar